choiem’s Blog

Just another Friendster Blogs weblog

18
Dec
2008

Cinta Yang Tak Rumit Dari Faiz

by choiem
Apa yang menyebabkan kita menyapa atau tidak menyapa, saat bertemu
seseorang?
Kebanyakan kita menyapa karena kita mengenal atau minimal
mengetahui seseorang itu. Bisa juga karena kita menyukai atau menghormati
orang tersebut, karena memang kebiasaan, atau punya keperluan. Mungkin
juga sekadar basa basi. Apa pun itu, saya belajar banyak soal ini
dari seorang anak kecil yang berbeda umur 26 tahun dari saya.

Setiap hari saat berjalan kaki menuju sekolahnya yang tak begitu jauh
dari rumah, Faiz akan melewati deretan panjang rumah yang ada di
sekitar kami. Empat tahun yang lalu, ketika Faiz masih TK, saya takjub
menyaksikan bagaimana cara ia menyapa! Semua tetangga yang kebetulan dilewati
atau ditemuinya di jalan, tak akan luput dari teguran ramah disertai
senyum lebar Faiz.

“Selamat pagi, Pak, selamat pagi, Bu….”

“Assalaamu’alaikum….”

“Mari Oma, mari Opa…”

“Dari mana, Tante?”

“Wah hari ini Kakak berseri sekali!”

“Mau kuliah, Bang?”

“Eh, ketemu adik cakep. Mau kemana pagi-pagi sudah rapi?”

Dan seterusnya….

Saat ia duduk di kelas II SD, saya pernah bertanya pada Faiz,” Mas
Faiz,apa kamu tak lelah menyapa begitu banyak orang setiap pagi?”

Faiz tertawa. “Tidaklah, Bunda. Aku senang karena senyum dan sapaku
mungkin bukan mengawali pagiku saja. Tapi mengawali pagi orang lain.
Lagipula senyum itu kan sedekah, Bunda.”

Saya nyengir. Pernyataan yang unik dari anak yang waktu itu belum
berumur delapan tahun. “Subhanallah. Kalau dihitung dengan uang, sedekahmu
mungkin sudah milyaran,” ujar saya sambil mencium pipi Faiz yang
memerah.

Setiap kali hadir pada arisan yang diadakan ibu-ibu sekitar rumah,
mereka kerap membicarakan Faiz.

“Waduh, Faiz itu ramah sekali ya, Bu. Kalau bertemu saya selalu
menegur lebih dulu, senyumnya manis sekali.”

“Kok bisa seperti itu sih, Bu? Bagaimana mendidiknya?”

Saya tersenyum. Bagaimana mengatakannya? Sesungguhnya saya tak pernah
mendidik Faiz secara khusus untuk menyapa dan tersenyum. Sayalah yang
banyak belajar dari Faiz!

Terbayang lagi berbagai peristiwa yang terjadi sejak Faiz mulai duduk
di bangku SD.

Ketika ia ada di teras rumah, semua pengemis yang lewat selalu
dipanggilnya, diajak makan dan minum. “Hari ini di rumah masak sop dan
perkedel.” Atau “Bapak mau bawa kopi untuk di jalan biar tidak mengantuk?

Mau teh manis dingin?” Ia akan berlari ke kamar, mengambil celengan dan
mengeluarkan lembaran kertas dari sana untuk diberikan pada mereka.

Belum lagi, semua tukang jualan, tukang sol sepatu, yang lewat pun
disuruh mampir. Ada saja yang ditawarkannya. “Istirahat dulu di sini,
Pak. Kan capek. Hari panas sekali. Sini, makan kue dan minum dulu. Atau
mau makan nasi?” Selain itu ia pun akan bisik-bisik pada anggota
keluarga lainnya untuk membeli sesuatu dari tukang jualan itu, meski kami
tak terlalu membutuhkannya. “Apa salahnya sih menolong orang?” ujarnya.

Maka di rumah mungil yang kami tempati, tak pernah ada hari di mana
kami memasak sekadar pas untuk keluarga. Selalu ada tamu-tamu istimewa
yang entah siapa. Faiz mengundang mereka secara tak terduga.

“Ikhlas yaaa, Bunda…,” katanya sambil tersenyum manis.
Lalu apakah ada lagi yang bisa saya ucapkan, meski dengan terbata Saya
hanya mampu memeluk Faiz kuat-kuat.

(Helvy Tiana Rosa)

16
Dec
2008

Sebuah Arti

by choiem

Hadirnya dirimu didalam hariku
Telah lama tawar hari ini
Sejak padam api didalam kalbuku
Dan senyummu membawaku
Melupakan segala kelabu
Dan hadirmu membuatku
(Kini) Tuk lebih mengerti
Arti kehidupan

Malam ini kau hadir kembali
Caikan hatiku yang telah lama membeku
Kusadari ternyata dirimu
Yang sanggup mengerti hasrat dalam kalbu
Saat ini telah kusadari
Hanya engkau yang sanggup mengerti
Saat ini telah kusadari
Kau memberi arti kehidupan

Sebuah Arti

Sebuah Arti

26
Nov
2008

Saturday, October 29, 2005 Siapakah Aku??

by choiem

Siapakah aku?
Aku bertanya pada malam kelabu
Dalam cahya yang sirna lalu
Saat semuanya kembali jadi debu

O, adakah aku…..
Seorang perenung yang melamun
Seorang pencari yang melangkah sendiri
Seorang pejuang dihimpit kehausan
Seorang pekerja di panggung sandiwara
Seorang lakonan dalam kehampaan
Kah???
Atau malahan aku bukan siapa-siapa

Siapakah aku?
Aku bertanya pada bulan tersungging malu
Di antara sembilu sendu menghujam kalbu
Dan rembulan menjawab ragu


Jakarta, 17 September 2005 posted by Pecinta Syair | 4:15 PM

20
Nov
2008

Sempat Memiliki Special One

by choiem

Mengapa kita bertemu

bila akhirnya dipisahkan
mengapa kita berjumpa
tapi akhirnya dijauhkan
kau bilang hatimu aku
nyatanya bukan untuk aku

bintang dilangit nan indah
dimanakah cinta yang dulu
masihkah aku disana
di relung hati dan mimpimu
andaikan engkau disini
andai kau tetap denganku

aku hancur ku terluka
namun engkaulah nafasku
kau cintaku meski aku
bukan dibenakmu lagi
dan kuberuntung sempat memilikimu

bintang dilangit nan indah
dimanakah cinta yang dulu
masihkah aku disana
di relung hati dan mimpimu
andaikan engkau disini
andai kau tetap denganku

aku hancur ku terluka
namun engkaulah nafasku
kau cintaku meski aku
bukan dibenakmu lagi
dan kuberuntung sempat memilikimu

engkau mengatakan merindukan diriku lagi
ingin kusampaikan ku tak hanya sekedar rindu

aku hancur ku terluka
namun engkaulah nafasku
kau cintaku meski aku
bukan dibenakmu lagi
dan kuberuntung sempat memilikimu

12
Nov
2008

Hari Yang Cerah Untuk Jiwa Yang Sepiiiiiiiii……..

by choiem

pagi biar kusendiri
jangan kau mendekat
wahai matahari
dingin hati yang bersedih
tak begitu tenang
mulai terabaikan

hari yang cerah untuk jiwa yang sepi
begitu terang untuk cinta yang mati
ah… ku coba bertahan dan tak bisa

kubu langit kelabuku
tak begitu luas
seperti memudar
kini tak terulang lagi
di hari yang cerah
dia telah pergi

hari yang cerah untuk jiwa yang sepi
ahh… ku coba bertahan dan tak bisa
ahh… mencoba melawan ku lepas
hari yang cerah untuk jiwa yang sepi…
begitu terang untuk jiwa yang mati

ahh… kucoba bertahan dah tak bisa
ahh… mencoba melawan ku lepas
semua telah hilang ….
semua telah ….